★ 6,4Indonesia Movie 21
Di balik tiap film ada rumah produksi, dan tiap rumah punya selera. Indonesia Movie 21 menyusun 162 film nasional menurut bendera yang menaunginya: Starvision dengan 24 film, MD Pictures dengan 19, Falcon Pictures dengan 17, lalu Visinema, Screenplay, MVP, Miles, Soraya, MNC, Imajinari, dan Maxima, serta 54 film dari rumah produksi mandiri. Tiap poster membawa tahun dan nama rumahnya.
Delapan belas rak, dua belas bendera
StarvisionStarvision 2006 sampai 2015
Lihat semua (10)
★ 6,4
★ 6,2
★ 6,4
★ 7,1
★ 5,6
★ 7,2StarvisionStarvision 2016 sampai 2025
Lihat semua (14)
★ 7,5
★ 6,9
★ 7,5
★ 7,7
★ 7,3
★ 7,3MDMD Pictures 2008 sampai 2016
Lihat semua (7)
★ 5,9
★ 7,7
★ 4,5
★ 6,9
★ 8,0
★ 7,7MDMD Pictures 2017 sampai 2026
Lihat semua (12)FalconFalcon Pictures 2013 sampai 2017
Lihat semua (9)
★ 6,2
★ 5,9
★ 5,4
★ 7,0
★ 6,8
★ 5,7FalconFalcon Pictures 2018 sampai 2025
Lihat semua (8)
★ 7,2
★ 6,6
★ 7,1
★ 5,9
★ 6,3
★ 7,1VisinemaVisinema Pictures
Lihat semua (9)
★ 7,9
★ 6,5
★ 6,2
★ 6,6
★ 7,0
★ 8,1ScreenplayScreenplay Films
Lihat semua (7)
★ 6,2
★ 6,4
★ 4,6
★ 6,9
★ 8,4
★ 7,1MVPMVP Pictures
Lihat semua (7)MilesMiles Films
Lihat semua (6)SorayaSoraya Intercine Films
Lihat semua (6)
★ 7,0
★ 7,7
★ 7,1
★ 6,7
★ 7,3
★ 7,4MNCMNC Pictures
Lihat semua (5)ImajinariImajinari
Lihat semua (4)MaximaMaxima Pictures
Lihat semua (4)MandiriRumah produksi mandiri 1986 sampai 2012
Lihat semua (12)
★ 5,8
★ 6,8
★ 6,5
★ 7,9
★ 7,3
★ 7,4MandiriRumah produksi mandiri 2013 sampai 2018
Lihat semua (12)
★ 7,6
★ 7,2
★ 2,7
★ 5,6
★ 7,5
★ 6,2MandiriRumah produksi mandiri 2019 sampai 2021
Lihat semua (13)
★ 6,9
★ 6,5
★ 8,1
★ 6,2
★ 6,0
★ 6,3MandiriRumah produksi mandiri 2022 sampai 2026
Lihat semua (17)
★ 6,8
★ 6,2
★ 7,3
★ 6,6
★ 7,3
★ 7,9Panduan Indonesia Movie 21
Indonesia Movie 21: film Indonesia menurut rumah produksi
Seratus enam puluh dua film, dua belas bendera
Sebelum film dimulai, layar selalu menampilkan logo: sebuah bintang, sepasang huruf, seekor elang. Itulah rumah produksi, pihak yang mengumpulkan cerita, sutradara, pemeran, dan biaya menjadi satu film. Indonesia Movie 21 menyusun 162 film nasional menurut logo pembuka itu.
Ada sebelas rumah produksi bernama di sini, ditambah satu kelompok besar rumah produksi mandiri. Bersama-sama mereka mengisi delapan belas rak, dari Nagabonar tahun 1986 sampai film-film berangka tahun 2026. Cara menjelajahinya dijelaskan di Mulai di Indonesia Movie 21.
Tiap film punya halaman sendiri dengan poster, sinopsis berbahasa Indonesia, pemeran, sutradara, durasi, rating, dan nama rumah produksinya. Tombol Tonton sekarang membuka judul itu di JustWatch, tempat layanan resmi untuk negara Anda ditampilkan.
Mengapa rumah produksi
Penonton biasanya mengingat pemeran dan sutradara. Tetapi rumah produksi sering lebih menentukan rasa sebuah film daripada yang disadari. Rumah yang satu gemar komedi keluarga, rumah yang lain gemar kisah cinta dari novel laris, dan rumah yang lain lagi berani membiayai laga yang keras.
Bila Anda menyukai satu film dari sebuah rumah, besar kemungkinan Anda menyukai film lain dari rumah yang sama. Itulah gagasan sederhana di balik panduan ini. Rumah produksi adalah petunjuk selera yang jarang dipakai, dan di sini ia dijadikan susunan utama.
Uraian lengkapnya ada di Film menurut rumah produksi. Indonesia Movie 21 adalah panduan mandiri dan berdiri di luar semua rumah produksi yang disebut di halaman ini.
Cara membaca beranda
Beranda dibuka dengan papan delapan belas petak. Tiap petak memuat nama rumah produksi, rentang tahun filmnya, dan jumlah film di rak itu. Tiga rumah terbesar, yaitu Starvision, MD Pictures, dan Falcon Pictures, masing-masing dibagi menjadi dua masa. Empat petak terakhir, bergaris emas, adalah rumah produksi mandiri dalam empat masa.
Tekan satu petak, dan halaman meluncur ke rak itu. Tiap rak menampilkan enam film yang paling banyak dinilai penonton, disusun menurut tanggal rilis. Di sudut kiri bawah poster tertulis tahun, di sudut kanan bawah tertulis nama rumahnya, dan di sudut kanan atas tertulis rating.
Tombol Lihat semua membuka isi rak seutuhnya. Arti tiap keterangan dijelaskan di Label di poster.
Bagaimana sebuah film mendapat rumahnya
Banyak film dibuat oleh lebih dari satu rumah produksi. Indonesia Movie 21 memakai aturan tetap: rumah yang tercatat pertama menentukan rak. Bila rumah pertama itu berada di luar sebelas rumah bernama, rumah berikutnya yang termasuk di antara sebelas itu yang dipakai. Film yang seluruh rumahnya berada di luar daftar masuk ke kelompok mandiri.
Contohnya Sweet 20, yang tercatat sebagai karya Starvision bersama sebuah perusahaan Korea, berdiri di rak Starvision. Si Doel the Movie, karya Karnos Film bersama Falcon Pictures, berdiri di rak Falcon. Dengan aturan itu tiap film punya tepat satu alamat, dan jumlah seluruh rak selalu 162.
Film yang lahir dari kerja sama dua rumah dibahas khusus di Kerja sama dua rumah.
Indonesia Movie 21 dalam angka
Tiga rumah terbesar menaungi 60 film, lebih dari sepertiga katalog: Starvision 24 film, MD Pictures 19 film, dan Falcon Pictures 17 film. Delapan rumah menengah menaungi 48 film: Visinema 9, Screenplay 7, MVP 7, Miles 6, Soraya 6, MNC 5, Imajinari 4, dan Maxima 4.
Sisanya, 54 film atau tepat sepertiga katalog, datang dari rumah produksi mandiri: puluhan nama yang masing-masing hadir dengan satu sampai tiga film. Rata-rata rating seluruh katalog adalah 6,61, dan rata-rata durasinya 109 menit.
Starvision: 24 film, dua rak
Starvision adalah rumah dengan film terbanyak di Indonesia Movie 21. Dua puluh empat filmnya terbentang dari 2006 sampai 2025, dengan rata-rata rating 6,7 dan rata-rata durasi 106 menit. Separuhnya, dua belas film, tercatat sebagai drama, dan sisanya terbagi antara komedi, kisah cinta, dan sedikit laga.
Watak rumah ini mudah dikenali: cerita sehari-hari, banyak tawa, dan penulis yang membawa pengalaman pribadinya ke layar. Panduan untuk tiga rumah terbesar ada di Tiga rumah besar.
Rak Starvision 2006 sampai 2015
Sepuluh film. Rak dibuka oleh Heart dari 2006, kisah cinta segitiga remaja yang lagunya dihafal satu angkatan, dan Get Married dari 2007, komedi tentang empat sahabat kampung.
Hanung Bramantyo menyutradarai tiga film di rak ini, termasuk Perahu Kertas dan Perahu Kertas 2 dari novel Dee Lestari. Bagian kedua memimpin rak dengan rating 7,7.
Lalu datang gelombang buku Raditya Dika: Cinta Brontosaurus, Manusia Setengah Salmon, dan Marmut Merah Jambu, yang terakhir ia sutradarai sendiri dan mencatat 7,1. Rak ditutup oleh Ngenest dari 2015, debut penyutradaraan Ernest Prakasa, dengan rating 7,2.
Rak Starvision 2016 sampai 2025
Empat belas film, dan di sinilah Starvision mencapai bentuk terbaiknya. Ernest Prakasa menyumbang Cek Toko Sebelah dengan 7,5 dan Susah Sinyal dengan 7,7, juara rak. Sweet 20 mencatat 7,5 dan Koala Kumal 7,4.
Rumah ini juga berani pada drama. Dua Garis Biru karya Gina S. Noer membuka percakapan tentang remaja dan tanggung jawab. Critical Eleven, film terpanjang di rak dengan 135 menit, mengangkat novel Ika Natassa. Wedding Agreement dan A Perfect Fit meneruskan garis kisah cinta.
Dua film laga hadir pula: Tarung Sarung dengan 7,4, dan satu film pahlawan super jenaka dari 2022 yang menjadi penghuni berating terendah di rak. Penghuni termuda adalah Dopamin dari 2025. Tiga dari empat belas film mencatat 7,5 atau lebih.
MD Pictures: 19 film, dua rak
Sembilan belas film dari 2008 sampai 2026, dengan rata-rata rating 6,49 dan rata-rata durasi 111 menit. Sepuluh di antaranya drama dan tujuh komedi. Dua film mencatat 8,0 atau lebih.
MD Pictures dikenal lewat kisah cinta bernapas religi dan film biografi berskala besar. Hanung Bramantyo adalah sutradara yang paling sering bekerja di rumah ini: lima film di kedua rak.
Rak MD Pictures 2008 sampai 2016
Tujuh film. Ayat-Ayat Cinta dari 2008 membuka rak dan sekaligus membuka zaman: film itu memperlihatkan bahwa kisah cinta religi sanggup memenuhi bioskop.
Habibie & Ainun dari 2012 dan Rudy Habibie dari 2016 sama-sama mencatat 7,7, dengan Reza Rahadian sebagai B.J. Habibie. Yang kedua adalah film terpanjang di rak, 142 menit. Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar menambah satu kisah nyata lagi.
Juara rak adalah sebuah drama rumah tangga dari 2015 dengan rating 8,0, yang kemudian mendapat lanjutan di rak berikutnya. Komedi Moderen Gokil mewakili sisi jenaka rumah ini dengan 7,2.
Rak MD Pictures 2017 sampai 2026
Dua belas film, terbagi rata antara drama dan komedi. Sabar Ini Ujian dari 2020 memimpin dengan 8,0 dan durasi 126 menit: komedi tentang seorang pria yang terjebak dalam hari pernikahan mantan kekasihnya. Twivortiare mencatat 7,6.
Tahun 2017 sangat ramai bagi rumah ini, dengan lima film di rak: Ayat-Ayat Cinta 2, Stip & Pensil, Insya Allah Sah, Security Ugal-Ugalan, dan lanjutan drama rumah tangga dari rak sebelumnya.
Anggy Umbara menyutradarai tiga film di rak ini, dan Hanung Bramantyo tiga film pula, termasuk Catatan si Boy dan Children of Heaven dari 2026, penghuni termuda. Mendarat Darurat adalah debut Pandji Pragiwaksono sebagai sutradara.
Falcon Pictures: 17 film, dua rak
Tujuh belas film dari 2013 sampai 2025, dengan rata-rata rating 6,63. Falcon adalah rumah nama-nama besar: tokoh yang sudah dikenal penonton dari televisi, buku, atau panggung, lalu dibawa ke layar lebar dengan anggaran besar. Enam filmnya komedi, delapan drama, dan tiga laga.
Rak Falcon Pictures 2013 sampai 2017
Sembilan film, dan lima di antaranya disutradarai Anggy Umbara: tiga film Comic 8 dan dua bagian pertama Warkop DKI Reborn. Comic 8 dari 2014 mengumpulkan delapan komika dalam cerita perampokan bank. Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 menghidupkan kembali trio legendaris dengan pemeran baru, dan mencatat 6,8.
Di luar komedi laga, rak ini menyimpan Sabtu Bersama Bapak dengan 7,5 dan My Stupid Boss dengan 7,0, film terpanjang di rak dengan 106 menit. Juara rak adalah Laskar Pelangi 2: Edensor dengan 7,8, lanjutan kisah Ikal yang dua film pertamanya dibuat rumah lain. Negeri van Oranje membawa lima mahasiswa Indonesia ke Belanda.
Rata-rata durasi rak ini 99 menit, salah satu yang terpendek di Indonesia Movie 21. Film-film Falcon masa itu dibuat untuk ditonton beramai-ramai dan pulang dengan tawa.
Rak Falcon Pictures 2018 sampai 2025
Delapan film. Dua film Si Doel the Movie membawa keluarga Betawi kesayangan dari televisi ke bioskop, dan film pertama memimpin rak dengan 7,2. Warkop DKI Reborn 3 meneruskan seri dengan sutradara baru.
Bumi Manusia dari 2019, karya Hanung Bramantyo dari novel Pramoedya Ananta Toer, adalah film terpanjang di seluruh katalog: 181 menit. Cinta Subuh dan Keluarga Super Irit sama-sama mencatat 7,1.
Dilan 1983: Wo Ai Ni berdiri di sini pula. Tiga film Dilan sebelumnya dibuat rumah lain dan berdiri di rak mandiri, sehingga kisah Dilan terbagi di dua bendera. My Sassy Girl adalah versi Indonesia dari komedi romantis Korea yang terkenal.
Visinema Pictures: sembilan film
Rata-rata rating 6,94, tertinggi kedua di antara rumah yang punya tujuh film atau lebih. Lima dari sembilan filmnya disutradarai Angga Dwimas Sasongko, pendiri rumah ini.
Dunia Filosofi Kopi lahir di sini: Filosofi Kopi pada 2015, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody pada 2017, dan Ben & Jody pada 2022, ketika dua sahabat peracik kopi itu pindah ke film laga. Surat dari Praha mengirim Julie Estelle ke Ceko.
Home Sweet Loan dari 2024 memimpin rak dengan 8,1, dan Love for Sale menyusul dengan 7,9. 13 Bom di Jakarta, 143 menit, adalah thriller kontraterorisme berskala besar. 24 Jam Bersama Gaspar dan Terlalu Tampan memperlihatkan rentang rumah ini, dari cerita detektif yang ganjil sampai komedi remaja dari komik daring. Rumah-rumah menengah dibahas di Rumah produksi menengah.
Screenplay Films: tujuh film
Tujuh film dari 2016 sampai 2019, dan rak ini punya dua wajah. Wajah pertama adalah kisah cinta remaja: London Love Story, lanjutannya, dan ILY from 38.000 Ft, ketiganya disutradarai Asep Kusdinar.
Wajah kedua adalah laga keras karya Timo Tjahjanto di bawah bendera Screenplay Infinite Films: Headshot dan The Night Comes For Us, dua film dengan Iko Uwais yang dinilai ratusan penonton dari seluruh dunia.
Di antara keduanya berdiri juara rak, Dancing in the Rain, dengan 8,4, serta komedi keluarga Orang Kaya Baru dengan 7,1. Jarang ada rak dengan rentang selebar ini: dari ciuman di London sampai perkelahian di gudang Jakarta.
MVP Pictures: tujuh film
Tujuh film dari 2009 sampai 2021, enam di antaranya drama. Soekarno: Indonesia Merdeka karya Hanung Bramantyo, 137 menit, adalah film terbesar rumah ini di katalog, dengan rating 7,4. 3 Srikandi mengenang tiga pemanah perempuan di Olimpiade 1988.
Tersanjung: The Movie memimpin rak dengan 8,2. 3 karya Anggy Umbara adalah laga berlatar Jakarta masa depan. Punk in Love dari 2009 adalah yang tertua, dan Abdullah & Takeshi serta Aach... Aku Jatuh Cinta karya Garin Nugroho mewakili sisi ringan rumah ini.
Miles Films: enam film
Enam film dari 2002 sampai 2016, dan hampir semuanya penanda zaman. Miles adalah rumah Mira Lesmana dan Riri Riza, dan Riri Riza menyutradarai empat dari enam film di rak ini. Rata-rata ratingnya 6,92.
Ada Apa dengan Cinta? dari 2002, disutradarai Rudi Soedjarwo, adalah film yang membawa penonton muda kembali ke bioskop. Laskar Pelangi dari 2008 memimpin rak dengan 7,6 dan lama memegang rekor penonton. Lanjutannya, Sang Pemimpi, menyusul setahun kemudian.
Sokola Rimba bercerita tentang Butet Manurung dan anak-anak rimba Jambi. Pendekar Tongkat Emas adalah percobaan rumah ini di film silat, direkam di Sumba. Dan Ada Apa Dengan Cinta? 2 mempertemukan kembali Cinta dan Rangga setelah empat belas tahun. Enam film, empat belas tahun, dan satu watak yang konsisten: cerita Indonesia yang digarap dengan sabar.
Soraya Intercine Films: enam film
Rata-rata rating 7,2, tertinggi di antara semua rumah bernama, dan rata-rata durasi 130 menit, juga tertinggi. Soraya membuat sedikit film, dan membuatnya besar.
5 cm dari 2012 membawa lima sahabat mendaki Semeru dan memicu demam naik gunung di kalangan anak muda. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dari 2013, 163 menit, memimpin rak dengan 7,7: roman Hamka dalam kemasan megah.
Tiga film Raditya Dika berdiri di sini: Single, The Guys, dan Single: Part 2. Bersama Soraya, komedi patah hati khasnya mendapat durasi lebih panjang dan lokasi lebih jauh. Penghuni termuda adalah Catatan Harian Menantu Sinting dari 2024, karya Sunil Soraya, dengan rating 7,4.
MNC Pictures: lima film
Lima film dari tiga tahun, 2018 sampai 2020, empat di antaranya komedi. Rata-rata durasinya 94 menit, terpendek di antara semua rumah. Rak ini cocok untuk malam ketika Anda ingin sesuatu yang ringan dan cepat selesai.
Preman Pensiun: The Movie memimpin dengan 6,4, membawa serial televisi kesayangan dari Bandung ke layar lebar. Mahasiswi Baru menempatkan seorang nenek di bangku kuliah. Koboy Kampus mengenang masa mahasiswa di Bandung dasawarsa sembilan puluhan, dan Toko Barang Mantan bercerita tentang toko yang menjual kenangan.
Imajinari: empat film
Rumah termuda di antara sebelas rumah bernama: keempat filmnya dirilis dari 2022 sampai 2025. Imajinari didirikan oleh para pelaku komedi, dan terlihat dari daftar sutradaranya: Bene Dion Rajagukguk, Arie Kriting, Meira Anastasia, dan Ernest Prakasa.
Ngeri-Ngeri Sedap dari 2022 memimpin dengan 7,9: sepasang orang tua Batak berpura-pura bertengkar agar anak-anaknya pulang dari rantau. Film itu membuat penonton tertawa, lalu menangis, dan menjadi salah satu film Indonesia paling dicintai dasawarsa ini.
Kaka Boss membawa cerita dari Indonesia timur. Lupa Daratan dari 2025 menandai kepulangan Ernest Prakasa ke kursi sutradara di rumah barunya, setelah tiga film bersama Starvision. Film keempat adalah komedi romantis tentang liburan ke Seoul.
Maxima Pictures: empat film
Empat film dari 2013 sampai 2022. Dua di antaranya disutradarai Guntur Soeharjanto dan membawa penonton ke luar negeri: 99 Cahaya di Langit Eropa ke Wina dan Paris, serta Assalamualaikum Beijing, juara rak dengan 7,5, ke Tiongkok.
Refrain adalah kisah persahabatan yang berubah menjadi cinta. Sayap-Sayap Patah dari 2022, karya Rudi Soedjarwo, adalah drama tentang seorang anggota pasukan antiteror dan istrinya yang sedang mengandung.
Rumah produksi mandiri: 54 film, empat rak
Sepertiga katalog datang dari rumah yang masing-masing hadir dengan satu sampai tiga film. Jumlah namanya puluhan: rumah sutradara, rumah komunitas, rumah yang didirikan untuk satu film saja. Rata-rata rating kelompok ini 6,58, dan tiga filmnya mencatat 8,0 atau lebih.
Di kelompok inilah genre paling beragam: 26 drama, 11 film laga, 9 komedi, serta satu-satunya film animasi dan satu-satunya film dokumenter di katalog. Empat raknya disusun menurut masa, dan dibahas di Rumah produksi mandiri.
Rak mandiri 1986 sampai 2012
Dua belas film dengan rata-rata rating 6,92, tertinggi di antara empat rak mandiri. Di sini berdiri film tertua katalog, Nagabonar dari 1986, dan lanjutannya dari 2007, Nagabonar Jadi 2, buatan Citra Sinema milik Deddy Mizwar.
Citra Sinema juga membuat juara rak: Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dengan 7,9. Janji Joni dari 2005 adalah film panjang pertama Joko Anwar. Upi hadir dengan dua film, Realita, Cinta dan Rock'n Roll dan Serigala Terakhir.
Dan dari rumah kecil bernama Merantau Films lahir dua film yang mengubah peta laga dunia: Merantau pada 2009 dan Serbuan Maut pada 2012, keduanya karya Gareth Evans dengan Iko Uwais. Yang kedua dinilai oleh lebih dari empat ribu penonton, jauh di atas film mana pun di panduan ini.
Rak mandiri 2013 sampai 2018
Dua belas film. The Raid 2: Berandal dari 2014 memimpin dengan 7,6 dan durasi 150 menit. Dilan 1990 dari 2018, buatan Max Pictures, menyusul dengan 7,5 dan menjadi gejala budaya pada tahunnya.
Hangout karya Raditya Dika, buatan Rapi Films, mencatat 7,2. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta, 148 menit, menghidupkan Mataram abad ketujuh belas. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 membawa pendekar novel silat ke layar dengan dukungan studio Hollywood.
Rak ini juga memuat beberapa film berating paling rendah di katalog, bukti bahwa kelompok mandiri adalah wilayah percobaan: sebagian berhasil gemilang, sebagian tersandung. Galih & Ratna dan Kapan Kawin? berdiri di tengah dengan nyaman.
Rak mandiri 2019 sampai 2021
Tiga belas film dari tiga tahun yang berat bagi bioskop. Rata-rata durasinya 101 menit. 27 Steps of May dari 2019 memimpin dengan 8,1: drama sunyi tentang pemulihan dari trauma, untuk penonton dewasa.
Dua film Dilan dari Max Pictures berdiri di sini, Dilan 1991 dan Milea: Suara dari Dilan. Dua film festival karya rumah kecil juga hadir: Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho dan Ave Maryam, yang dengan 74 menit merupakan film terpendek di rak.
Masa streaming tercermin dalam Ali & Ratu Ratu Queens, Guru-Guru Gokil, dan Bucin, tiga film yang menjangkau penonton lewat layar di rumah. Kukira Kau Rumah dari 2021 adalah debut sutradara muda Umay Shahab.
Rak mandiri 2022 sampai 2026
Rak terbesar di Indonesia Movie 21: tujuh belas film, dengan rata-rata rating 6,94. Masa kini adalah masa rumah-rumah baru, dan banyak di antaranya langsung menghasilkan film yang dibicarakan.
Dua film berating 8,2 berdiri di sini: Lucid Love, 71 menit, film terpendek di katalog, dan sebuah drama cinta tahun 2025 karya Robert Ronny. Surat untuk Masa Mudaku dari 2026 mencatat 7,9.
Laga tetap menjadi kekuatan rumah mandiri. Frontier Pictures membuat The Big 4 dan The Shadow Strays, keduanya karya Timo Tjahjanto. Come and See Pictures membuat Pengepungan di Bukit Duri karya Joko Anwar. Palari Films membuat Kabut Berduri.
Rak ini juga menyimpan FOUFO, satu-satunya film animasi di katalog, dan Pesta Babi, satu-satunya film dokumenter. Keduanya berangka tahun 2026, tanda bahwa rumah mandiri terus membuka wilayah baru bagi film nasional.
Dua belas bendera dibandingkan
Menurut rata-rata rating, Soraya memimpin dengan 7,2. Visinema menyusul dengan 6,94, lalu Miles dengan 6,92. Imajinari mencatat 6,78, MVP 6,73, Starvision 6,7, Falcon 6,63, kelompok mandiri 6,58, Maxima 6,53, MD Pictures 6,49, dan Screenplay 6,42. MNC berada di ujung dengan 5,3, ditarik turun oleh satu film berating sangat rendah.
Rumah yang membuat sedikit film cenderung mencatat rata-rata lebih tinggi. Soraya, Miles, dan Visinema memilih proyeknya dengan hati-hati. Rumah besar membuat lebih banyak film dan mengambil lebih banyak risiko, sehingga rataannya lebih landai, tetapi juaranya sama tinggi.
Menurut durasi, Soraya juga memimpin dengan 130 menit, sedangkan MNC paling ringkas dengan 94 menit. Selisih tiga puluh enam menit itu menggambarkan dua pandangan tentang film: tontonan megah untuk layar lebar, dan hiburan cepat untuk malam biasa.
Juara tiap rumah
Bila tiap bendera mengirim satu wakil, inilah barisannya. Starvision: Susah Sinyal, 7,7. MD Pictures: Sabar Ini Ujian, 8,0, sejajar dengan sebuah drama rumah tangga dari 2015. Falcon Pictures: Laskar Pelangi 2: Edensor, 7,8.
Visinema: Home Sweet Loan, 8,1. Screenplay: Dancing in the Rain, 8,4, rating tertinggi di seluruh katalog. MVP: Tersanjung: The Movie, 8,2. Miles: Laskar Pelangi, 7,6. Soraya: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, 7,7.
MNC: Preman Pensiun: The Movie, 6,4. Imajinari: Ngeri-Ngeri Sedap, 7,9. Maxima: Assalamualaikum Beijing, 7,5. Dan dari rumah mandiri: Lucid Love dengan 8,2 serta 27 Steps of May dengan 8,1. Daftar lengkap dengan pilihan kedua ada di Film terbaik tiap rumah.
Sutradara dan rumahnya
Beberapa sutradara nyaris identik dengan satu bendera. Angga Dwimas Sasongko menyutradarai lima film Visinema. Anggy Umbara menyutradarai lima film Falcon. Riri Riza menyutradarai empat film Miles. Asep Kusdinar menyutradarai tiga film Screenplay.
Sutradara lain berpindah-pindah. Hanung Bramantyo adalah yang paling lintas bendera: lima film di MD Pictures, tiga di Starvision, dua di MVP, satu di Falcon, dan tiga lagi di rumah mandiri. Empat belas filmnya tersebar di bawah lima bendera.
Raditya Dika membagi kariernya antara Starvision, Soraya, dan Rapi Films. Ernest Prakasa membuat tiga film bersama Starvision sebelum pindah ke Imajinari. Timo Tjahjanto bekerja dengan Screenplay Infinite, lalu dengan Frontier Pictures. Peta lengkapnya ada di Sutradara dan rumahnya.
Seri film dan benderanya
Seri film biasanya setia pada satu rumah. Tiga film Comic 8 dan tiga film Warkop DKI Reborn seluruhnya milik Falcon. Dunia Filosofi Kopi, tiga film, seluruhnya milik Visinema. Dua film Single milik Soraya, dua film Perahu Kertas milik Starvision, dan dua film Ayat-Ayat Cinta milik MD Pictures.
Beberapa seri berpindah bendera, dan itu selalu menarik. Kisah Ikal dimulai di Miles dengan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, lalu dilanjutkan Falcon dengan film ketiga. Kisah Dilan dimulai di Max Pictures dengan tiga film, lalu film tentang masa kecilnya dibuat Falcon.
Dua film The Raid dan pendahulunya, Merantau, lahir dari rumah kecil yang sama. Dua film tentang B.J. Habibie milik MD Pictures. Dan dua film Nagabonar, berjarak dua puluh satu tahun, sama-sama berdiri di rak mandiri tertua. Uraiannya ada di Seri dan benderanya.
Ketika dua rumah bekerja sama
Kerja sama antarrumah makin lazim. Sebuah rumah bernama Legacy Pictures tercatat sebagai mitra pada banyak film di katalog ini, bersama Starvision dalam Critical Eleven, bersama Screenplay dalam Orang Kaya Baru, bersama Visinema dalam Home Sweet Loan, dan bersama Miles dalam Ada Apa Dengan Cinta? 2.
Dapur Film, rumah milik Hanung Bramantyo, tercatat sebagai mitra dalam dua film Perahu Kertas, Children of Heaven, dan Tersanjung: The Movie. Perusahaan dari luar negeri ikut pula: sebuah perusahaan Korea menjadi mitra Sweet 20 dan Belok Kanan Barcelona.
Bagi penonton, kerja sama berarti gabungan kekuatan: dana dari satu pihak, selera cerita dari pihak lain. Di Indonesia Movie 21, film semacam itu berdiri di rak rumah yang tercatat lebih dulu, dan halaman film menyebut semua rumah yang terlibat.
Watak tiap rumah dalam satu kalimat
Starvision: komedi dan drama keseharian dengan hati yang hangat. MD Pictures: kisah cinta religi dan biografi tokoh besar. Falcon Pictures: nama-nama terkenal dalam kemasan meriah. Visinema: cerita anak muda kota yang digarap rapi.
Screenplay: cinta remaja di satu sisi, laga keras di sisi lain. MVP: drama dan sejarah. Miles: film yang menjadi penanda zaman. Soraya: sedikit, besar, dan megah. MNC: komedi ringan berdurasi pendek. Imajinari: komedi keluarga dari para komika. Maxima: perjalanan iman ke negeri jauh.
Dan rumah mandiri: segala yang berani, dari laga paling keras sampai drama paling sunyi. Dua belas kalimat itu adalah penyederhanaan, tentu saja, tetapi cukup untuk memilih rak pertama Anda.
Memilih rak menurut selera
Bila Anda mencari tawa bersama keluarga, mulailah dari rak Starvision 2016 sampai 2025, lalu Imajinari. Bila Anda mencari kisah cinta yang menguras air mata, rak MD Pictures dan Soraya menanti. Bila Anda mencari laga, rak mandiri pertama dan terakhir serta rak Screenplay adalah tujuannya.
Bila Anda ingin film sejarah, lihat MVP, MD Pictures, dan Falcon, tempat Soekarno: Indonesia Merdeka, Habibie & Ainun, dan Bumi Manusia berdiri. Bila Anda ingin film yang dibicarakan di festival, rak mandiri 2019 sampai 2021 menyimpan beberapa.
Dan bila Anda sekadar ingin film pendek untuk malam kerja, rak MNC serta rak Falcon 2013 sampai 2017 berisi film yang rata-rata selesai dalam seratus menit.
Rumah produksi dari masa ke masa
Katalog ini memperlihatkan pergantian generasi. Film dari dua ribuan didominasi Miles dan rumah mandiri seperti Citra Sinema. Starvision dan MD Pictures tumbuh pesat sejak akhir dasawarsa itu, dan Falcon menyusul sejak 2013.
Tahun 2015 sampai 2019 adalah masa paling ramai: Visinema, Screenplay, dan MNC muncul sebagai kekuatan baru, dan tiga rumah besar merilis film hampir tiap bulan. Sejak 2022, rumah-rumah baru seperti Imajinari, Frontier, dan Come and See membawa cara kerja berbeda, sering dengan dukungan layanan streaming.
Tujuh belas film di rak mandiri termuda, jumlah terbesar di antara semua rak, menunjukkan arah itu: perfilman Indonesia makin beragam pembuatnya, dan penonton makin sering bertemu logo yang baru pertama kali dilihatnya.
Pemeran lintas bendera
Pemeran, lebih daripada sutradara, bekerja untuk semua rumah. Reza Rahadian, yang tercatat di antara pemeran utama pada 17 film, hadir di rak MD Pictures, Starvision, Falcon, Soraya, Visinema, Miles, dan MVP. Dialah benang yang menjahit hampir seluruh papan.
Ernest Prakasa hadir sebagai pemeran di rak Starvision, Falcon, MD Pictures, dan Imajinari. Vino G. Bastian hadir dari rak mandiri tertua sampai rak Imajinari. Iko Uwais, sebaliknya, hanya hadir di rak mandiri dan rak Screenplay, tempat film laga dibuat.
Menelusuri satu pemeran melintasi bendera adalah cara lain memakai panduan ini: ketik namanya di kotak pencarian, dan lihat label rumah di tiap poster hasilnya.
Mencari film di Indonesia Movie 21
Ada tiga jalan. Papan delapan belas petak di beranda cocok bagi Anda yang ingin menjelajah menurut rumah. Kotak pencarian menerima judul, nama pemeran, dan nama sutradara. Daftar A–Z menyusun seluruh 162 film menurut abjad.
Menu atas membuka empat daftar gabungan: seluruh film Starvision, seluruh film MD Pictures, seluruh film Falcon, dan seluruh film rumah mandiri. Semua jalan itu dijelaskan di halaman Pencarian.
Di ponsel, papan tersusun dua petak per baris dan poster tampil dua kolom, seperti diuraikan di Indonesia Movie 21 di ponsel. Seluruh film berbahasa Indonesia, dan layanan resmi umumnya menyediakan teks Indonesia serta Inggris; rinciannya ada di Bahasa dan subtitle.
Setelah menemukan film, tekan Daftar Saya untuk menyimpannya. Cara menyusun daftar menurut rumah produksi ada di Panduan Daftar Saya.
Rumah produksi dan buku laris
Banyak rumah membangun namanya di atas buku yang sudah dicintai pembaca. MD Pictures mengangkat novel Habiburrahman El Shirazy menjadi dua film Ayat-Ayat Cinta, dan memoar B.J. Habibie menjadi Habibie & Ainun. Miles mengangkat novel Andrea Hirata menjadi Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.
Starvision mengangkat novel Dee Lestari menjadi dua film Perahu Kertas, novel Ika Natassa menjadi Critical Eleven, dan buku-buku Raditya Dika menjadi tiga komedi. Soraya mengangkat 5 cm dari novel Donny Dhirgantoro dan roman Hamka menjadi Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Falcon mengangkat Bumi Manusia dari Pramoedya Ananta Toer dan Sabtu Bersama Bapak dari Adhitya Mulya. Visinema mengangkat cerita pendek Dee Lestari menjadi Filosofi Kopi dan novel Almira Bastari menjadi Home Sweet Loan. Hampir tiap rumah besar punya rak buku di balik rak filmnya.
Dari televisi dan panggung ke bioskop
Sumber lain yang digemari rumah produksi adalah nama yang sudah akrab dari televisi. Falcon membawa Si Doel dan Warkop. MNC membawa Preman Pensiun. MVP membawa Tersanjung. MD Pictures menghidupkan kembali Catatan si Boy, tokoh idola dasawarsa delapan puluhan.
Panggung lawakan tunggal juga menjadi ladang. Falcon mengumpulkan para komika dalam Comic 8. Starvision memberi Raditya Dika dan Ernest Prakasa kesempatan menyutradarai cerita mereka sendiri. Imajinari kemudian lahir dari generasi itu, sebagai rumah yang dijalankan para komika.
Bagi penonton, nama yang akrab memberi rasa aman. Bagi rumah produksi, nama itu memberi jaminan penonton awal. Panduan ini membantu melihat polanya: rak mana yang paling banyak bertumpu pada nama lama, dan rak mana yang paling sering memperkenalkan cerita baru.
Laga dan rumah-rumah kecil
Film laga Indonesia yang paling dikenal dunia hampir seluruhnya lahir di luar tiga rumah besar. Merantau, Serbuan Maut, dan The Raid 2: Berandal dibuat rumah kecil dengan mitra dari luar negeri. Headshot dan The Night Comes For Us dibuat cabang laga Screenplay.
The Big 4 dan The Shadow Strays dibuat Frontier Pictures. Pengepungan di Bukit Duri dibuat Come and See Pictures bersama sebuah studio Amerika. Dari rumah bernama, Visinema menyumbang 13 Bom di Jakarta dan Ben & Jody, dan Starvision menyumbang Tarung Sarung.
Pola itu masuk akal. Laga keras adalah taruhan mahal dengan penonton yang lebih sempit di dalam negeri, tetapi lebih luas di luar negeri. Rumah kecil yang lincah, sering dengan mitra asing dan layanan streaming, lebih berani mengambil taruhan itu.
Rak yang ramah keluarga
Untuk menonton bersama anak, beberapa rak lebih aman daripada yang lain. Rak Miles menyimpan Laskar Pelangi dan Sokola Rimba. Rak Falcon 2018 sampai 2025 menyimpan Keluarga Super Irit dan dua film Si Doel. Rak MD Pictures termuda menyimpan Stip & Pensil dan Children of Heaven.
Rak Starvision 2016 sampai 2025 menyimpan Cek Toko Sebelah dan Susah Sinyal, cocok untuk keluarga dengan anak remaja. Rak Imajinari menyimpan Ngeri-Ngeri Sedap.
Rak mandiri dan rak Screenplay memuat beberapa film laga dan drama untuk penonton dewasa. Bacalah sinopsis di halaman film, dan periksa klasifikasi umur di layanan resmi sebelum menonton bersama anak.
Panjang film menurut bendera
Rumah produksi juga punya kebiasaan durasi. Soraya rata-rata 130 menit, dan film terpendeknya pun, The Guys, berjalan 114 menit.
MD Pictures dan Visinema sama-sama rata-rata 111 menit. Starvision dan Falcon sama-sama 106 menit. MNC 94 menit, dan rak Falcon pertama 99 menit.
Film terpanjang di katalog, Bumi Manusia, milik Falcon. Film terpendek, Lucid Love, milik rumah mandiri. Delapan film berjalan 140 menit atau lebih, dan empat di antaranya berdiri di rak mandiri: semuanya film laga atau film sejarah yang membutuhkan ruang.
Membaca logo pembuka
Kebiasaan kecil yang menyenangkan: perhatikan logo yang muncul sebelum film dimulai. Seringnya ada dua atau tiga logo berurutan, dan urutannya bercerita. Logo pertama biasanya milik rumah yang memimpin produksi, logo berikutnya milik mitra.
Setelah beberapa film, Anda akan mulai menebak isi film dari logonya. Bintang Starvision menjanjikan tawa dan haru yang akrab. Huruf MD menjanjikan cerita besar. Elang Falcon menjanjikan nama terkenal. Logo yang asing menjanjikan kejutan.
Indonesia Movie 21 mencatat rumah produksi di halaman tiap film, pada bagian Studio. Bandingkan dengan logo yang Anda lihat di layar, dan lambat laun peta rumah produksi Indonesia akan tersimpan di kepala.
Dua belas bendera dalam setahun
Panduan ini bisa menjadi rencana tontonan setahun: satu bendera tiap bulan. Januari untuk Starvision, rumah terbesar, dengan empat film pilihan dari dua raknya. Februari untuk MD Pictures, bertepatan dengan musim kisah cinta. Maret untuk Falcon.
April sampai November untuk delapan rumah menengah, satu bulan satu rumah. Rumah dengan empat film, seperti Imajinari dan Maxima, bisa ditamatkan seluruhnya dalam bulan itu. Desember untuk rumah mandiri, dengan satu film dari tiap masa.
Di akhir tahun Anda sudah menonton sekitar lima puluh film dan mengenal watak dua belas bendera. Sejak itu, memilih film Indonesia baru di bioskop menjadi lebih mudah: cukup lihat logonya.
Catatan tentang data
Nama rumah produksi di Indonesia Movie 21 diambil dari data produksi yang tercatat di TMDB untuk tiap film. Data itu disusun oleh para penyumbang dan bisa berbeda dari kredit resmi di layar, terutama untuk film lama dan film dengan banyak mitra.
Karena itu panduan ini memakai aturan sederhana dan terbuka: rumah pertama yang tercatat menentukan rak. Bila Anda menemukan film yang menurut Anda lebih pantas berdiri di rak lain, itu wajar; kerja sama antarrumah memang membuat garisnya samar. Halaman film selalu menampilkan seluruh nama yang tercatat.
Indonesia Movie 21 berdiri sendiri, di luar semua rumah produksi itu, dan menyebut nama mereka semata-mata sebagai keterangan tentang film.
Lima film untuk mengenal lima bendera
Bagi yang baru mulai, lima film ini memperkenalkan lima rumah dengan cepat. Dari Miles: Laskar Pelangi, film yang memperlihatkan kesabaran rumah itu pada cerita anak-anak dan daerah. Dari Starvision: Cek Toko Sebelah, komedi keluarga yang lucu dan tulus.
Dari MD Pictures: Habibie & Ainun, biografi dan kisah cinta sekaligus. Dari Falcon: Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1, nama legendaris dalam kemasan meriah. Dari Visinema: Filosofi Kopi, cerita anak muda kota dengan gambar yang rapi.
Tambahkan satu film dari rumah mandiri, Serbuan Maut, dan Anda sudah melihat enam wajah film Indonesia dalam enam malam. Sesudah itu, pilih bendera yang paling Anda sukai dan habiskan raknya.
Rumah yang memberi panggung kepada penulis
Salah satu sumbangan terbesar Starvision adalah kepercayaannya kepada penulis yang ingin menyutradarai ceritanya sendiri. Raditya Dika memulai sebagai penulis buku, lalu pemeran, lalu sutradara Marmut Merah Jambu dan Koala Kumal di rumah ini.
Ernest Prakasa menempuh jalan serupa: Ngenest diangkat dari bukunya sendiri, dan ia menulis, menyutradarai, serta membintanginya. Gina S. Noer, penulis skenario banyak film laris, menyutradarai film pertamanya, Dua Garis Biru, di rumah yang sama.
Hasilnya terlihat dalam angka. Rak Starvision 2016 sampai 2025 mencatat rata-rata 6,81, lebih tinggi daripada rak Starvision sebelumnya, dan film-film karya penulis-sutradara itu berdiri di puncaknya.
Rumah besar dan film besar
Film berskala besar membutuhkan rumah yang kuat. Bumi Manusia, tiga jam dengan latar Hindia Belanda, dibuat Falcon. Soekarno: Indonesia Merdeka dibuat MVP. Rudy Habibie, dengan latar Jerman dasawarsa lima puluhan, dibuat MD Pictures. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dengan kapal dan kostum masa silam, dibuat Soraya.
Keempat film itu berjalan 137 menit atau lebih dan mencatat rating 7,1 atau lebih. Tiga di antaranya disutradarai Hanung Bramantyo, sutradara yang paling sering dipercaya rumah besar untuk proyek besar.
Dari rumah mandiri, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta membuktikan bahwa film sejarah megah bisa pula lahir di luar rumah besar, kali ini dari sebuah rumah yang didirikan khusus untuk film tersebut.
Rumah kecil dan film kecil yang dicintai
Di ujung lain ada film kecil yang menang lewat ketulusan. 27 Steps of May dibuat rumah yang hanya hadir dengan satu film di katalog ini, dan mencatat 8,1. Lucid Love, 71 menit, mencatat 8,2. Ave Maryam, 74 menit, dibicarakan di banyak festival.
Janji Joni dari 2005 dibuat Kalyana Shira Films dan memperkenalkan Joko Anwar. Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dibuat rumah milik sutradaranya sendiri. Film-film ini jarang punya anggaran besar, tetapi punya suara yang jelas.
Itulah guna rak mandiri: mengingatkan bahwa film bagus bisa datang dari mana saja. Bila Anda sudah akrab dengan tiga rumah besar, empat rak mandiri adalah tempat menemukan kejutan.
Tahun tersibuk tiap rumah
Tiap rumah punya tahun emasnya di katalog ini. Bagi MD Pictures, tahun itu 2017, dengan lima film. Bagi Starvision, 2017 pula, dengan empat film: Susah Sinyal, Sweet 20, Critical Eleven, dan Mau Jadi Apa?. Bagi Falcon, 2016, dengan empat film.
Bagi Screenplay, 2016 dengan tiga film. Bagi MNC, 2019 dengan tiga film. Bagi rumah mandiri, 2019 juga tahun yang ramai. Tahun 2016 sampai 2019 terlihat sebagai puncak produksi sebelum bioskop terhenti pada 2020.
Sesudah jeda itu, peta berubah. Rak termuda tiga rumah besar lebih tipis, sedangkan rak mandiri termuda menjadi yang terbesar. Membaca tahun di sudut poster, dengan demikian, sama dengan membaca sejarah singkat industri film kita.
Permainan tebak bendera
Cobalah permainan ini bersama teman: sebutkan satu judul, dan minta semua orang menebak rumah produksinya sebelum melihat label di poster. Ada Apa dengan Cinta?? Miles. Comic 8? Falcon. 5 cm? Soraya. Tiga itu mudah.
Yang lebih sulit: Sweet 20 adalah film Starvision, Orang Kaya Baru film Screenplay, dan Soekarno: Indonesia Merdeka film MVP. Laskar Pelangi 2: Edensor hampir selalu ditebak sebagai film Miles, padahal Falcon yang membuatnya. Dan Dilan 1990 sering dikira film salah satu rumah besar, padahal Max Pictures.
Permainan ini mengajarkan satu hal: watak rumah produksi itu nyata, tetapi tiap rumah juga gemar keluar dari kebiasaannya. Justru film yang keluar dari kebiasaan itulah yang sering menjadi juara rak.
Tiga pertanyaan sebelum memilih rak
Pertanyaan pertama: Anda ingin yang sudah pasti atau yang mengejutkan? Untuk yang pasti, pilih rumah besar dengan watak yang jelas. Untuk kejutan, pilih rak mandiri.
Pertanyaan kedua: berapa lama waktu Anda? Bila hanya ada satu setengah jam, MNC dan rak Falcon pertama adalah pilihan aman. Bila ada sore yang panjang, Soraya dan film sejarah MD Pictures menanti.
Pertanyaan ketiga: dengan siapa Anda menonton? Bersama keluarga, rak Starvision termuda dan Imajinari jarang mengecewakan. Bersama teman penggemar laga, rak mandiri pertama dan terakhir. Berdua dengan pasangan, rak MD Pictures dan Visinema menyimpan kisah cinta dari yang manis sampai yang pahit. Tiga jawaban itu biasanya sudah cukup untuk menunjuk satu petak di papan, dan dari petak itu satu poster, dan dari poster itu satu malam yang menyenangkan.
Jenis film menurut bendera
Angka genre memperjelas watak tiap rumah. Dari 24 film Starvision, dua belas tercatat sebagai drama, lima sebagai komedi, tiga sebagai kisah cinta, dan dua sebagai laga. Dari 19 film MD Pictures, sepuluh drama dan tujuh komedi, dengan laga yang nyaris absen.
Falcon lebih berimbang: delapan drama, enam komedi, dan tiga laga, yaitu ketiga film Comic 8. Visinema punya tiga film laga dari sembilan, perbandingan tertinggi di antara rumah bernama. MNC hampir seluruhnya komedi, dan MVP hampir seluruhnya drama.
Kelompok mandiri adalah satu-satunya tempat semua jenis berkumpul: 26 drama, 11 laga, 9 komedi, dua thriller, dua petualangan, serta film fiksi ilmiah, animasi, dokumenter, dan sejarah. Bila sebuah jenis film jarang dibuat rumah besar, hampir pasti ia hidup di rak mandiri.
Mengapa susunan ini berguna
Menyusun film menurut rumah produksi mungkin terdengar seperti urusan orang dalam industri. Tetapi bagi penonton, manfaatnya nyata. Rumah produksi adalah penjaga mutu yang paling awal: merekalah yang memilih naskah, menunjuk sutradara, dan memutuskan berapa besar sebuah cerita layak digarap.
Ketika Anda tahu rumah mana yang cocok dengan selera Anda, daftar tontonan menjadi lebih mudah disusun. Film baru dari rumah itu layak ditunggu, dan film lama dari rumah itu layak dicari. Panduan ini memberi peta untuk keduanya: tahun di sudut kiri poster, bendera di sudut kanan.
Dan bagi yang ingin memahami perfilman Indonesia lebih dalam, dua belas bendera ini adalah pintu yang baik. Di baliknya ada sejarah tentang siapa yang berani bertaruh pada cerita apa, pada tahun berapa, dan dengan hasil seperti apa di mata penonton. Sejarah itu terus bertambah tiap tahun, satu logo pembuka demi satu logo pembuka, dan tiap film baru menambah satu poster lagi di salah satu rak.
Satu saran penutup: sesekali, pilihlah film dari bendera yang jarang Anda tonton. Penggemar komedi Starvision mungkin terkejut oleh kesunyian sebuah film mandiri, dan penggemar laga mungkin luluh oleh drama keluarga dari Imajinari. Selera tumbuh ketika diberi kesempatan, dan delapan belas rak di papan beranda disusun agar kesempatan itu selalu berjarak satu tekanan saja. Catat bendera yang mengejutkan Anda, lalu kembalilah ke raknya pada pekan berikutnya.
Dengan cara itu, dalam beberapa bulan saja, peta dua belas bendera berubah menjadi peta selera Anda sendiri.
Lima langkah untuk kunjungan pertama
Langkah pertama: lihat papan delapan belas petak dan pilih satu bendera. Langkah kedua: tekan petaknya. Langkah ketiga: baca tahun, rating, dan nama rumah di poster.
Langkah keempat: buka halaman film, baca sinopsis, dan lihat pemerannya. Langkah kelima: pilih negara Anda dan tekan Tonton sekarang untuk melihat layanan resmi yang menayangkannya. Uraiannya ada di Mulai di Indonesia Movie 21.
Yang dijaga Indonesia Movie 21
Seluruh film di sini adalah film Indonesia. Tiap film berdiri di tepat satu rak, menurut rumah produksi pertama yang tercatat. Angka di halaman ini dihitung dari katalog itu sendiri.
Sinopsis ditulis dalam bahasa Indonesia. Rating ditampilkan apa adanya. Tombol Tonton sekarang selalu mengarah ke halaman pencarian layanan resmi.
Pertanyaan yang sering diajukan
Jawaban singkat untuk pertanyaan yang paling sering datang ada di bawah ini. Versi panjangnya ada di halaman Tanya jawab.
Kenali benderanya, temukan filmnya
Di balik tiap film Indonesia ada sekelompok orang yang percaya pada sebuah cerita dan mempertaruhkan namanya di logo pembuka. Dua belas bendera di panduan ini adalah dua belas cara memandang film nasional: sebagai tawa, sebagai cinta, sebagai sejarah, sebagai keberanian.
Pilih satu bendera malam ini dan tonton satu filmnya. Bila cocok, rak yang sama menyimpan teman-temannya. Selamat memilih, dan selamat menonton.
Pertanyaan
Apa itu Indonesia Movie 21?
Indonesia Movie 21 adalah panduan film berbahasa Indonesia yang menyusun 162 film nasional menurut rumah produksinya, dalam delapan belas rak, dari 1986 sampai 2026.
Rumah produksi apa saja yang ada?
Starvision, MD Pictures, Falcon Pictures, Visinema, Screenplay, MVP, Miles, Soraya, MNC, Imajinari, dan Maxima, ditambah satu kelompok rumah produksi mandiri.
Di mana saya bisa menonton filmnya?
Buka halaman film, pilih negara Anda di bagian Tempat menonton, lalu tekan Tonton sekarang. Halaman judul itu terbuka di JustWatch dengan daftar layanan resmi yang menyediakannya.
Rumah mana yang filmnya paling banyak?
Starvision dengan 24 film, disusul MD Pictures dengan 19 film dan Falcon Pictures dengan 17 film. Kelompok rumah mandiri memuat 54 film.
Rumah mana yang ratingnya paling tinggi?
Soraya Intercine Films dengan rata-rata 7,2 dari enam film, disusul Visinema dengan 6,94 dan Miles dengan 6,92.
Bagaimana film hasil kerja sama ditempatkan?
Menurut rumah produksi pertama yang tercatat. Halaman film menampilkan semua rumah yang terlibat.
Apa yang dimaksud rumah produksi mandiri?
Rumah yang hadir di katalog dengan satu sampai tiga film. Kelimapuluh empat filmnya disusun dalam empat rak menurut masa.
Apakah Indonesia Movie 21 milik salah satu rumah produksi?
Indonesia Movie 21 adalah panduan mandiri yang berdiri di luar semua rumah produksi. Nama mereka disebut sebagai keterangan tentang film.
Film mana yang ratingnya paling tinggi?
Dancing in the Rain dari rak Screenplay dengan 8,4, disusul Tersanjung: The Movie dan Lucid Love dengan 8,2.
Bagaimana cara menyimpan film?
Tekan tombol Daftar Saya di halaman film. Daftar tersimpan di peramban Anda dan bisa dibuka kapan saja dari menu atas.
★ 6,6
★ 6,2
★ 6,5
★ 8,0
★ 6,1
★ 5,7
★ 6,3
★ 7,4
★ 6,6
★ 6,0
★ 6,4
★ 6,2
★ 7,5
★ 7,6
★ 6,6
★ 6,9
★ 6,5
★ 6,4
★ 2,7
★ 6,4
★ 5,3
★ 6,3
★ 5,8
★ 7,9
★ 6,3
★ 6,3
★ 6,6
★ 5,4
★ 6,8
★ 7,5
★ 6,4